Showing posts with label Diary. Show all posts
Showing posts with label Diary. Show all posts
Friday, January 25, 2013
Just Like the Morning Dew
"I've lost some people in my life. I let them go, or they let me go."
Ada kalanya aku ingin memiliki waktuku sendiri; menghabiskannya dengan orang yang aku sayangi.
Merasa nyaman seperti sinar matahari pagi.
Ada kalanya aku ingin menciptakan duniaku sendiri, seperti apa yang selalu aku bayangkan selama ini.
Merasa tenang seperti tetesan embun di pagi hari.
Kadang aku berpikir, aku selalu memikirkan hal yang sama, masalah yang sama. Hanya waktu dan orang didalamnya yang berubah. Seseorang datang, mengisi hari-hariku yang biasanya terasa sepi, memberi warna pada setiap benda menjadi lebih hidup. Hingga saat yang diberikan, kemudian menjauh dan menghilang. Tapi aku bersyukur, entah kenapa aku selalu memiliki orang-orang yang hadir ketika aku sendirian. Menghiburku, menyadarkanku, membantuku menemukan kembali sinar hati yang mulai meredup. I love everything in my life.
Friday, October 19, 2012
One Happiness
"I never thought that there will really be a man who loves me the way I am. Who shows me that I deserve to be loved by someone, unconditionally. But now I'm starting to believe that true love does exist."
Mencintai dan dicintai, menyayangi dan disayangi. Ketika suatu perasaan dibalas dengan satu perasaan yang sama, tak ada kata yang bisa mewakili perasaan yang ditimbulkan selain kebahagiaan.
Aku bukan seorang wanita yang sempurna dan tanpa cela. Aku punya banyak kekurangan dan aku tak pernah merasa terbaik diantara siapapun. Mungkin dalam beberapa hal aku bisa lebih baik dari mereka, tapi aku tau dalam beberapa hal mereka mungkin jauh lebih baik dari aku.
Banyak hal yang aku temui dan aku pelajari dalam hidupku. Tentang cinta, sayang, kekecewaan, patah dan sakit hati. Banyak orang yang aku temui dalam hidupku. Mereka yang baik hati, polos, perhitungan, penuh politik, dan yang munafik. Mungkin itu salah satu faktor mengapa aku tak mudah percaya. Terlalu banyak janji dan kata-kata manis yang pernah kudengar. Banyak hal yang seperti yang pernah aku pikirkan sebelumnya. Bahkan hampir semua yang aku pikirkan tentang relasi hidup manusia adalah salah. Hidup ini tak seindah bayanganku.
Tak mudah mempercayai orang yang baru saja aku kenal. Tapi entah kenapa, kepada beberapa orang aku selalu merasa pernah mengenalnya sebelumnya. Ada satu perasaan yang membuatku nyaman, dan mengatakan bahwa dia adalah saru orang yang pernah dekat denganku sebelumnya. Dan perasaan itulah yang membuat aku selalu mengingatnya.
Mencintai dan dicintai, menyayangi dan disayangi. Ketika suatu perasaan dibalas dengan satu perasaan yang sama, tak ada kata yang bisa mewakili perasaan yang ditimbulkan selain kebahagiaan.
Aku bukan seorang wanita yang sempurna dan tanpa cela. Aku punya banyak kekurangan dan aku tak pernah merasa terbaik diantara siapapun. Mungkin dalam beberapa hal aku bisa lebih baik dari mereka, tapi aku tau dalam beberapa hal mereka mungkin jauh lebih baik dari aku.
Banyak hal yang aku temui dan aku pelajari dalam hidupku. Tentang cinta, sayang, kekecewaan, patah dan sakit hati. Banyak orang yang aku temui dalam hidupku. Mereka yang baik hati, polos, perhitungan, penuh politik, dan yang munafik. Mungkin itu salah satu faktor mengapa aku tak mudah percaya. Terlalu banyak janji dan kata-kata manis yang pernah kudengar. Banyak hal yang seperti yang pernah aku pikirkan sebelumnya. Bahkan hampir semua yang aku pikirkan tentang relasi hidup manusia adalah salah. Hidup ini tak seindah bayanganku.
Tak mudah mempercayai orang yang baru saja aku kenal. Tapi entah kenapa, kepada beberapa orang aku selalu merasa pernah mengenalnya sebelumnya. Ada satu perasaan yang membuatku nyaman, dan mengatakan bahwa dia adalah saru orang yang pernah dekat denganku sebelumnya. Dan perasaan itulah yang membuat aku selalu mengingatnya.
Sunday, November 27, 2011
The Little Imperfections That Make It Perfect
Aku paling benci dibentak. Atau mungkin bisa aku bilang dimarahi dengan suara dan nada yang keras. Tak akan banyak mengubah diriku. Aku hanya bisa berubah dengan kelembutan dari nada dan tingkah laku.Entah kenapa, dari dulu hingga saat ini. Aku sering kali berbeda pendapat dengan mamaku. Perbedaan ini sering membuat kami saling beradu argumen yang pada akhirnya menyebabkan satu dari dua hal ini. Aku pergi ke kamar, menangis dan merenung dalam kekecewaan, atau mamaku akan terus berceramah dengan nada khasnya yang tinggi dan keras. Yah itulah mamaku, seorang wanita yang begitu kuat menghadapi banyak hal. Dalam hal-hal tertentu beliau membuatku terkagum-kagum padanya. Walaupun dalam hal-hal lain, pemikiran beliau begitu berbeda dengan pikiranku dan membuatku jengkel dan kecewa karenanya.
Sering aku mengeluh, ketika aku merasa begitu tertekan dengan banyak hal. Sering aku merasa malas berada dirumah, karena pikiranku begitu suntuknya. Aku sayang mamaku. Dulu mungkin beliau ada di urutan ketiga dalam hatiku. Setelah emak dan papaku. Tapi saat ini beliau ada diurutan pertama dihatiku. Tak peduli betapa jengkelnya aku ketika sedang marah pada beliau, betapa tertekannya aku dengan setiap ajaran yang keluar dari bibir beliau. Mama tetap orang yang paling aku sayang. Sedikit demi sedikit, rencana hidup yang selama ini telah aku susun mulai bergeser. Perbedaan yang ada, semakin hari, semakin bisa disamakan. Mungkin karena aku beranjak dewasa dan bisa mulai berpikir seperti beliau. Atau mungkin mama sudah mulai mengerti celah untuk bisa masuk dalam diriku. Ketidaksempurnaan yang ada, kemarahan, kejengkelan, kekecewaan, segalanya membuat hidupku sempurna. Karena aku tau, semua itulah yang membentukku menjadi seperti saat ini.
Friday, November 25, 2011
The Future
Pada saat-saat tertentu, aku benci mengetahui apa yang mungkin akan terjadi di masa depan. Dan aku lebih benci lagi ketika hal itu benar-benar terjadi (jika itu bukanlah yang aku inginkan). Rasanya seperti membaca novel yang sangat mudah ditebak, di mana aku bisa mengetahui akhir yang terjadi.Sering aku merasa mungkin aku terlalu banyak memikirkan hal yang tidak perlu. Dan merasakan melebihi apa yang seharusnya aku rasakan. Aku bisa sangat bahagia hanya karena satu hal yang sangat kecil. Begitu juga sebaliknya. Aku bisa sangat sedih juga karena satu hal yang sangat sepele. Satu hal lagi yang sedang dalam proses perubahan. Bahwa tak seharusnya suasana hatiku berubah dengan begitu cepatnya karena hal-hal diluar diriku karena itu pasti akan sangat mengganggu.
Bagaimana jika aku begitu yakin akan sesuatu, dengan perasaan yang begitu kuat mengenai satu hal. Tetapi kenyataan yang terlihat pada saat ini menunjukkan kebalikannya? Haruskah aku mengikuti perasaanku? Atau meminta logikaku mengambil alih semuanya dan mengikuti kenyataan yang ada saat ini?
Tuesday, November 22, 2011
To Love and To Be Loved
Pernah suatu ketika seseorang bertanya kepadaku, "Mana yang kamu pilih, mencintai, atau dicintai?" Dan tanpa ragu, aku menjawabnya, "Mencintai ..."Beberapa orang berkata kepadaku, bahwa wanita tak seharusnya menyukai pria terlebih dahulu. Aku tak benar-benar mengerti alesan di balik itu. Beberapa yang lain berkata bahwa wanita akan lebih bahagia jika hidup bersama orang yang mencintai mereka. Untuk yang satu ini, aku percaya dan telah melihat sendiri kebenarannya.
Tetapi, tetap saja semua itu tak bisa merubah perasaanku. Walaupun aku berusaha sebisa mungkin untuk bertahan, ada saat dimana cinta datang kepadaku dan tanpa aku sadari berkembang di dalamnya. Jika ada lagi, orang yang bertanya kepadaku tentang mana yang akan aku pilih, mencintai atau dicintai, aku akan tetap dengan tegas berkata, mencintai.
Entahlah, akhir-akhir ini aku sering merasa bahwa aku ini benar-benar bodoh. Kepolosan dan keluguan yang aku sadari dapat menyeretku dalam kekecewaan yang dalam setiap kalinya. Bagiku mencintai adalah satu hal yang sangat indah. Aku tak membutuhkan cinta balasan untuk bisa berbahagia, hanya dengan mencintai, memberi, dan membahagiakan orang itu cukup untuk membuatku bahagia setiap harinya. Sedangkan dicintai bagiku adalah kebalikannya. Ada rasa penyesalan karena tak bisa membalas perasaan itu. Ada perasaan sedih karena mungkin aku telah menyakiti orang itu. Dan ada perasaan tertekan, ketika menerima sesuatu tanpa dapat memberikan balasan kembali.
Friday, November 18, 2011
Unconditional Love
Aku termasuk orang yang sangat mudah bosan dengan satu hal yang terjadi berulang-ulang. Aku bisa memastikan dalam waktu berapa lama aku akan bosan pada seseorang. Aku bisa langsung tau apakah aku cocok dengan seseorang hanya dalam satu kali pertemuan. dan karena itulah, selama ini aku tak pernah tau aku bisa menyukai seseorang dalam waktu yang cukup lama. Seharusnya ini bukan tipeku. Menyukai seseorang melebihi batas yang bisa aku beri. Cinta tak berkondisi. Aku rasa sekarang aku tau seperti apa itu. Mencintai benar-benar dengan hati, tak peduli apakah suatu saat dia akan sakit, mungkin wajahnya akan berubah, mungkin kakinya pincang, mungkin ia mengidap suatu penyakit parah, benar-benar tak lagi mengusik dalam pikiran. Hhh, atau mungkin aku memang benar-benar bodoh untuk tidak mempedulikan apapun. Harta kekayaan, aku tak mencari itu. Karena aku tau, itu hal yang bisa didapat dengan usaha. Dan segala sesuatu bisa aku beli dengan uang, kecantikan, popularitas, tapi hati tak pernah bisa dibeli dengan uang. Kecuali hati mereka, orang-orang yang menganggap uang adalah segalanya. Aku tau segala sesuatu butuh uang, dan terlalu munafik mengatakan uang itu tak berguna. Aku tak akan bisa mengisi perutku dengan makanan jika aku tak punya uang. Aku tak bisa mempercantik diriku dengan pakaian dan aksesoris indah tanpa uang. Dan aku tak bisa merawat tubuhku dengan baik tanpa uang. Aku masih bisa berpikir realistis tentang itu. Tapi aku rasa otakku sudah tak bisa lagi berpikir realistis untuk satu perasaan ini. Kadang aku berpikir, suatu saat nanti mungkin aku akan merasakan perasaan yang sama dengan orang yang berbeda. Jadi seharusnya aku tak boleh seperti ini. Tapi ini sungguh satu hal yang sulit. Cinta tak bersyarat itu benar-benar gila! Dan aku tak ingin percaya bahwa ini adalah cinta tak bersyarat. Terlalu tak masuk akal untuk terjadi pada diriku yang belum berusia genap 20 tahun!
Sunday, November 13, 2011
Trust
She's been hurt but she's stronger, lied to and now she's smarter. With heartbreak comes wisdom and now she refuses to settle for less~Mungkin semua akan berbeda jika aku punya saudara perempuan. Aku selalu membutuhkan seseorang yang bisa aku percaya untuk membagi segala ceritaku. Aku rindu kehadiran saudara perempuan dalam hidupku.
Siapakah yang bisa aku percaya dalam kehidupan ini? Ketika setiap kali aku mempercayai seseorang, aku mengetahui ada banyak kebohongan darinya. Aku tak peduli akan kebohongan itu. Tak ada yang bisa mengubah perasaan sayangku pada seseorang jika aku sudah menyayanginya. Aku terlalu tulus untuk bisa mengubah perasaan yang ada hanya karena tindakan bodoh dan kekurangan yang mereka miliki. Dan terlalu tidak adil mengharapkan seseorang bisa menjadi sempurna seperti yang aku inginkan.
Aku selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk seseorang. Mungkin itu alasan mengapa aku begitu sering merasakan kekecewaan. Ketika aku berusaha menjadi yang terbaik (dan pada akhirnya aku memang melakukan yang terbaik) tetapi aku selalu tak mengerti kemana harus berbagi ketika aku merasa sedih.
Bahkan ketika suatu janji hanyalah semua kata yang tertulis dan terucap dari bibir, tanpa ada tindakan seperti yang di janjikan. Aku hanya bisa mengenang dalam ingatanku, dan hidup dari kenangan-kenangan indah. Aku berhenti menyimpan semua memori buruk. Aku takut ketika aku menyimpannya, hatiku akan memudar dan berubah menjadi hitam, tanpa rona. Aku ingin tetap memelihara satu hati yang berwarna merah. Walau mungkin ada banyak retakan disana. Daripada memiliki satu hati utuh dan keras berwarna hitam dan kelam.
Tired being a Romantic Melancholic
Aku seorang melankolis. Dan aku seorang romantis. Perpaduan antara keduanya benar-benar membuatku menjadi orang dengan perasaan yang 1000 kali lebih peka. Dan sering membuat logikaku tak mampu mengendalikannya.
Ketika aku bahagia, semua warna menjadi begitu indah. Langit menjadi biru yang begitu nyata dan luar biasa. Ketika aku sedih, mendung datang menerpa, seolah mengetahui keadaan hatiku dan berusaha menyesuaikannya.
Thursday, October 27, 2011
The Tarot
Apakah kamu percaya pada yang namanya ramalan?Aku percaya. Aku rasa ramalan bukanlah sesuatu yang buruk. Dan bukan satu hal yang bijaksana untuk mengatakan bahwa ramalan adalah sebuah omong kosong jika aku bisa membuktikan dan meyakini bahwa apa yang keluar darinya adalah suatu kebenaran yang terjadi dalam hidupku. Aku rasa, beberapa atau mungkin aku bisa bilang, banyak orang membohongi diri sendiri dengan menganggap bahwa ramalan hanyalah omong kosong dan yang bisa aku pikirkan tentang mereka adalah bahwa mereka memiliki ketakutan tersendiri bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi pada mereka. Sehingga mereka menipu diri sendiri dengan berusaha mengelaknya. Mengelak bukan berarti kamu akan lepas dari hal buruk. Dan tak semua yang terprediksi dimasa depan akan benar. Karena segala sesuatu berubah seiring berjalannya waktu dan segala pilihan yang kita ambil dalam hidup. Percayai apa yang baik dan benar terjadi, tapi jika sesuatu itu buruk, berusahalah untuk memperbaiki apa yang salah sehingga apa yang terjadi dimasa depan akan lebih baik.
Bulan ini adalah bulan Oktober, dimana akan ada perayaan halowen diakhir bulan. Aku baru saja mencoba tarot dan 99% tentang masa lalu dan saat ini yang terbaca disana adalah benar adanya. Sungguh luar biasa. Aku beberapa kali melakukan ramalan ketika pergi kesuatu tempat. Tapi aku tak selalu mempercayai hasil yang dikatakan oleh mereka. Aku berpikir dengan logika. Dan aku tak akan pernah bisa dengan mudah mempercayai segala sesuatu yang mereka katakan tentang masa depanku. Terutama jika mereka salah membaca segala sesuatu yang terjadi dimasa lalu dan masa sekarangku. Ketika mereka membaca dengan salah di 2 masa itu, mereka tak akan pernah bisa benar memprediksi masa depanku. Seperti itulah aku berpikir. Karena masa lalu dan saat ini adalah 2 hal yang pasti benar, sedangkan masa depan masih bisa berubah.
Dan aku benar-benar tak menyangka bahwa perasaan yang ada dalam diriku begitu kuatnya. Dan kartu apapun yang keluar dan mengartikan semuanya, begitu sempurna menggambarkan apa yang aku rasa. Luar biasa.
Wednesday, October 05, 2011
My Dream Life and The Real One
Di dunia ini, ada banyak sekali yang belum aku ketahui. Segala sesuatu di dunia ini ibarat air yang ada di samudera, dan apa yang aku ketahui hanyalah sebatas air yang ada di dalam sebuah gelas. Segala sesuatu berubah, menjadi lebih dari sebelumnya. Lebih baik, atau bahkan mungkin menjadi lebih buruk.Aku selalu membayangkan tentang hidupku. Itulah bagaimana aku menghabiskan hari-hariku dimasa kecil. Tanpa seorang saudara perempuan yang bisa aku ajak bermain, merenung dan berkhayal adalah jalan satu-satunya yang bisa aku lakukan sebagai seorang anak introvert saat itu. Dan tentu saa impian itu melekat dalam ingatanku, dan semakin dewasa, segalanya benar-benar berbeda. Semua tak seperti apa yan aku bayangkan selama ini. Kenyataan yang ada benar-benar membuat kehidupan impian itu perlahan-lahan pudar. Aku tak pernah tau seperti apa kehidupan yang sebenarnya. Tak ada yang memberi tahuku apa yang harus aku lakukan pada diriku, pada hidupku, dan pada apa yang mungkin terjadi padaku. Aku hanya menerima nasehat-nasehat pendek tanpa mengetahui alasan yang ada dibelakangnya. Mungkin karena itulah ada banyak kepahitan yang tertanam di dasar jiwaku. Hidupku ini seperti kelinci percobaan, dimana aku akan selalu mempertaruhkan segala sesuatu untuk memutuskan menempuh suatu jalan beserta resiko yang ada di dalamnya.
Beberapa waktu yang lalu, aku menonton satu drama korea berjudul Personal Taste. Dan sejak itu, aku mulai berpikir, betapa miripnya aku dengan tokoh utama bernama Park Gae In, seorang wanita yang benar-benar bodoh dan hanya mengetahui secara dangkal tentang apa yang seharusnya dilakukan pada dirinya sendiri. Kebodohan yang sama, tentang penampilan, tentang perasaan, tentang memperlakukan orang yang disayang, tentang teman dekat dan sahabat. Semua sama. Pernah aku tertawa dan menangis bersamaan, mengetahui bahwa aku sama bodohnya dengan wanita itu. Aku melihat kebodohannya di film yang pada kenyataannya adalah kebodohanku di dunia nyata. Sedikit-sedikit aku belajar, bagaimana harus bertindak, dan tentu saja begitu sulitnya untuk dilakukan, karena aku harus mengingatkan diriku sendiri ketika aku salah. Dunia ini aneh, atau mungkin justru akulah yang aneh.
Tuesday, October 04, 2011
Just Like A Bird In A Nest
Selama ini, aku selalu diam dan bersikap pasif akan hidupku. Aku selalu mengalah dan berusaha untuk menuruti apa yang dikatakan orang tuaku. Walaupun tentu saja sering aku menangis setelahnya. Tak ada banyak perubahan hingga saat ini. Aku tetap melakukan hal yang sama, mengalah. Tapi aku akan tetap mengatakan apa yang aku rasakan, dan dengan patah hati, kesedihan, dan kekecewaan yang cukup dalam, aku akan berkata betapa aku sedih karenanya. Bukan karena aku tak bisa melakukan apa yang aku inginkan, ini lebih karena aku akhirnya harus membatalkan apa yang aku katakan sebelumnya.Aku tak pernah suka ingkar janji, dan setiap kali aku membatalkan sesuatu yang telah aku setujui karenanya, aku akan cukup marah. Aku benci menjadi orang yang tidak konsisten. Aku orang yang terlalu stabil untuk bisa membatalkan suatu janji tanpa rasa bersalah.
Dan tentu saja disini pada akhirnya seolah-olah aku menyakiti keduanya. Menyakiti orang yang berjanji padaku karena akhirnya membatalkan janji secara sepihak, menyakiti orang tuaku karena aku akan marah dan membatah mereka karena membuatku membatalkan janji secara sepihak. Sering aku berkata, kalau memang aku tak boleh melakukan sesuatu, katakan hal itu diawal. Karena aku tak ingin dikenal sebagai seorang plin plan yang tak pernah membuat keputusan dengan tegas.
Banyak hal yang tak bisa aku ungkapkan. Mungkin karena aku merasa tak ada gunanya mengungkapkan hal itu. Hanya akan memperkeruh keadaan dan terus-terusan dibilang aku orang yang tak bersyukur akan apa yang ada. Tak semuanya benar. Aku bersyukur atas hidupku, walaupun selama ini yang bisa aku ingat kebanyakan adalah kesedihan dan kepaitan. Aku tau bahwa aku bahagia atas hidup yang ada, atas orang-orang yang begitu berharga dalam hidupku. Seperti halnya burung yang selalu tinggal di sarangnya, melihat bahwa dunia begitu indah tanpa benar-benar mengerti bahaya apa yang ada di dalamnya. Begitulah aku menjalani hidupku, jauh dari kehidupan luar yang begitu menakutkan, terkaget-kaget ketika mengetahui sedikit lebih banyak tentang rahasia kehidupan, berdiri diantara keluarga yang begitu ketat yang kolot dan kehidupan luar yang lebih modern. Kadang aku berpikir, aku seperti berdiri diperbatasan dua kota, kaki kanan ku di bagian ajaran lama yang kolot dan kaki kiriku di bagian dunia modern yang terus mengalami perubahan, tak ada tempat yang pasti, tentang siapa aku, dan sekali lagi tak ada yang memberitahuku, seperti apa aku harus menjadi, dan sekali lagi aku harus mencari tau sendiri, dengan kenyataan bahwa aku hidup dalam dua dunia yang benar-benar berbeda.
Sunday, October 02, 2011
Soulmate
Aku tau aku punya rencana dalam perubahan diriku. Plan yang sudah aku atur dari waktu yang cukup lama. Dan yang pada kenyataannya mengalami perubahan dan berjalan lebih cepat dari rencana awal. Aku tak pernah berusaha untuk berubah demi orang lain. Selama ini perubahan yang ada mengikuti rencana awalku. Tapi sepertinya perlahan semua berubah karena seseorang. Kadang aku berpikir, apakah perubahan yang aku lakukan akan berpengaruh juga pada diriku yang sebenarnya, merubah segala sesuatu yang selama ini ada dalam diriku. Tapi aku tak terlalu peduli, karena hanya aku yang tau pasti siapa diriku yang sebenarnya, apa yang sedang aku lakukan, untuk apa aku melakukannya, dan apa resiko yang mungkin terjadi karenanya.Soulmate. Dari segala sesuatu yang aku perhatikan, aku selalu berpikir, dan merasa bahwa soulmate itu hanya satu untuk seorang. Tapi sekarang aku merasa, sepertinya pendapat itu salah. Soulmate itu lebih dari satu. Mungkin itu alasan seseorang bisa tertarik dan menyukai lebih dari satu orang. Cukup aneh untuk dipercaya, sebenarnya aku tak benar-benar ingin mempercayainya juga, karena tentu saja itu akan kembali merusak impianku selama ini. Bahkan bila hanya ada satu soulmate, aku akan bertanya-tanya, siapa orang itu. Dan sekarang aku harus mengakui bahwa soulmate tak hanya satu, benar-benar semakin membingungkan. Segala sesuatu, semakin aku ingin tau, semakin aku merasa bingung dan tetap tak bisa mengerti.
Monday, September 05, 2011
What I Want To Do
Aku selalu ingin menjadi pengatur hidupku sendiri. Aku ingin melakukan apa yang ingin aku lakukan. Aku tau apa yang baik dan apa yang buruk. Aku tau setiap keputusan selalu memiliki resikonya masing-masing.Cukup aneh bagiku, karena tak ada yang memberi tahu ku tentang apa yang harusnya aku lakukan pada diriku. Sehingga tentu saja aku akan mencari tau sendiri apa yang harus aku lakukan. Memperhatikan orang lain, melakukan hal-hal yang ingin aku lakukan. Tetapi ketika apa yang aku lakukan kurang sempurna, aku harus mendapatkan kritikan yang cukup keras. Aku lebih suka diberi tahu dengan kata-kata seperti orang berbicara, bukan dengan menyalahkan apa yang telah aku lakukan, tetapi dengan mengatakan apa yang aku lakukan di kemudian hari. Dua hal, menyampaikan pesan yang sama, dengan cara berbeda, aku akan menanggapinya dengan cara yang juga berbeda.
Ada kalanya aku akan menjadi begitu sedih, karena banyak hal dalam hidupku berjalan lebih lambat dari yang seharusnya, dan beberapa hal berjalan lebih cepat. Ada banyak hal yang ingin aku ubah dalam hidupku, tetapi selalu ada pengatur dalam hidupku yang membatasi ruang gerakku. Kadang kala aku berpikir, berapa banyak waktu yang harus aku buang untuk bisa mengatur hidupku sendiri, memilih apa yang ingin aku lakukan dan melakukannya.
Thursday, September 01, 2011
I Think I Should Live In The 18th Century
Ini bukan pertama kalinya aku ingin hidup di abad 18. Segala sesuatu tampak lebih sesuai denganku di abad itu. Cerita cinta klasik, bagaimana seorang pria tergila-gila pada seorang wanita, dan dengan segala cara mengupayakan yang terbaik untuk wanita tersebut. Wanita-wanita dengan gaun mengembang, hiasan topi dan renda di rambut, kereta kuda yang dinaiki untuk berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, bukankah itu sangat mengagumkan?
Cara seorang pria memperlakukan wanita begitu mempesona. Mungkin pengaruh tempat juga mempengaruhi. Dan aku rasa, tempat yang benar-benar membuatku bahagia adalah hidup dalam keluarga menengah ke atas di Eropa pada abad ke-18. Tak ada yang lebih membahagiakan daripada hal itu. Menghadiri pesta dansa, memakai gaun berenda, berkuda, berjalan-jalan di jalanan berpasir yang masih penuh dengan tumbuhan hijau, segalanya begitu menyenangkan. Dan aku rasa aku bisa menghabiskan banyak waktu untuk menikmati keindahan dunia, merenung, membuat puisi, bersajak dan bersenandung, menciptakan lagu yang mengalun di dalam diri karena perasaan yang luar biasa. Dan aku rasa aku akan banyak bertemu pria yang sesungguhnya, yang selalu berusaha lebih baik dari wanita. Walaupun aku tau, tetap ada cukup banyak pria brengsek juga.
Come Back Home
Fiuh~
Hari ini cukup melelahkan. Aku baru pulang dari Tretes. Hidup tanpa internet dan tak bisa menulis pemikiran di blog sungguh menjengkelkan. Aku berusaha mengingat hal-hal yang seharusnya bisa aku post kan beberapa hari yang lalu. Oya, aku pindah ke rumahku yang lama. Seperti mengungsi lagi, memindahkan semua barangku sendirian. Satu hal yang aku sadari, aku memiliki buku bacaan yang sangat banyak. Aku baru menyadarinya. Dan buku-buku itu selalu mengikuti pemikiranku, ketika aku sedang memikirkan psikologi, buku itu yang aku beli, ketika aku sedang mencari tau segi agama, buku-buku itu yang aku beli. Saat ini aku sedang menyukai novel buatan orang luar, dan itu lah yang banyak aku beli saat ini. Cerita novel buatan orang luar lebih nyata, membayangkannya jauh lebih menantang.
Saturday, August 27, 2011
Keep Silent
Bertanya-tanya seperti apa aku dulu? Rasanya dulu aku selalu bisa menyimpan perasaanku dengan baik. Seseorang tak akan tau aku menyukainya walaupun kami saling berbicara. Tapi kenapa semua berubah? Sekarang aku benar-benar kesulitan menutupi perasaan yang ada. Selalu ingin mengungkapkannya. Seperti terlalu penuh di dalam sehingga mau atau tidak aku harus menumpahkannya keluar, dan itu berarti mengutarakannya.
Ada kalanya aku merasa menjadi diriku yang dulu lebih menyenangkan. Menyimpan segalanya sendirian, memikirkannya sendirian. Kadang ketika aku sudah tak sanggup menyimpannya, aku akan memeluk bonekaku, bercerita dan menangis kepadanya. Memang boneka itu tak akan bisa mendengar, berbicara, ataupun menghiburku. Tetapi itu mengurangi beban yang ada.
Bercerita pada orang lain, aku baru melakukannya di masa akhir sekolah menengah pertamaku. Pertama kalinya aku punya teman dekat yang selalu mengajakku berkomunikasi setiap harinya. Kemudian aku bertemu dengan seorang teman dekatku lagi di sekolah menengah atas. Dan mungkin sejak saat itu aku mulai berubah. Mulai menceritakan masalahku, berbagi cerita. Akhir-akhir ini aku mulai sedikit lebih tertutup lagi. Bercerita pada orang lain kadang bukan hal yang baik. Ketika kamu memintanya untuk menjaga rahasia tetapi mereka membocorkannya, ketika kamu ingin bercerita tetap mereka sedang sibuk dengan urusan mereka, terlalu banyak hal yang ku pikirkan sebelum aku bercerita, dan kenyataan bahwa tak mungkin seseorang selalu ada ketika aku ingin bercerita adalah satu alasan terutama. Menulis di blog, seperti menulis di diary, berbicara pada diri sendiri tapi menganggapnya bercerita pada orang lain jauh lebih baik.
Kapanpun aku ingin bicara, sedih, bahagia, jatuh cinta, patah hati, marah, kecewa, apapun yang ingin aku katakan tak ada yang harus aku sembunyikan, mengalir mengikuti suasana. Walaupun memang masih ada beberapa hal yang aku sembunyikan karena tak bisa membaginya dengan orang lain.
Aku baru membaca sebuah novel, dan jujur karena itulah aku mulai bertanya-tanya apa yang membuatku tak sanggup menahan perasaan dan selalu mencurahkannya dalam tindakan ketika aku tak bisa dan tak berani mengungkapkan dengan kata-kata. Seorang wanita yang jatuh cinta tapi berusaha mati-matian menutupi perasaannya, dan dia berhasil. Karena pada akhirnya laki-laki yang dia suka menyatakan perasaan terlebih dahulu.
Satu hal yang aneh adalah cobaan di dunia lebih berat bagi orang-orang baik. Memang aneh, tetapi pada kenyataanya banyak orang baik hati yang justru mendapatkan musibah lebih buruk daripada mereka yang jahat. Tragis.
Going Around The World
Mmm, tak tau pasti apa alasannya, dan mengapa aku ingin melakukannya. Aku mengubah rencana hidupku, ya, sekali lagi aku mengubahnya. Aku rasa aku ingin menghabiskan waktuku untuk pergi ke luar negri, bertemu dengan orang-orang dari negara lain, berteman dan menjadi sahabat mereka. Aku ingin tau bagaimana cara mereka berteman. Karena aku tau pasti cara berpikir mereka pasti berbeda dengan kita.
Tentu saja itu bukan hal yang mudah. Tapi aku benar-benar tak ingin menjadi katak dalam tempurung, seperti burung dalam sangkar. Aku ingin terbang bebas, melakukan apa yang aku inginkan, dan ini adalah salah satunya. Perlahan-lahan aku akan memikirkannya. Cara yang paling tepat untuk tetap bisa meneruskan pekerjaan orang tuaku tetapi tetap bisa melakukan apa yang aku inginkan.
Orang tua, pekerjaan mereka, ketakutanku, ya aku sudah menemukan 3 penghalang yang mungkin akan menahanku tetap di tempat ini. Berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk bisa memulai perjalanan ini? Kadang aku merasa waktu berjalan begitu cepatnya tanpa ada hal yang bisa diprediksikan. Tapi memang seperti inilah yang terjadi.
Mungkin seharusnya dulu aku belajar lebih rajin supaya bisa beasiswa ke luar negri, tapi itupun orang tuaku belum tentu mengijinkannya. Selalu ada batu sandungan setiap kamu berjalan, tapi bukan berarti kamu harus berhenti disana, karena walau bagaimanapun, jalan itu akan tetap disana, begitu juga dengan batu sandungan itu. Ketika kamu terjatuh karena batu itu, bangun dan tetap lanjutkan perjalananmu, karena jalan itu tetap disana, menuntunmu sampai ke tujuan. Yang terpenting adalah bagaimana dirimu, apakah kamu akan tetap diam disana, meratapi satu batu sandungan kecil yang berhasil menjatuhkanmu, atau melewatinya dan tersenyum melanjutkan perjalanan yang ada, berterima kasih pada batu kecil yang memberi satu pengalaman baru dalam hidupmu, membuatmu menjadi lebih dewasa dan bijak dalam melakukan sesuatu.
Friday, August 26, 2011
Song and My life
Aku selalu suka lagu. Selain membaca buku hal yang paling aku suka adalah mendengarkan lagu. Dulu lagu-lagu yang ada di komputerku pasti lagu-lagu slow. Semakin melan semakin bagus. Mulai beberapa waktu yang lalu aku mulai menyukai lagu dengan beat yang agak cepat. Aku bukan orang yang bisa dengan mudah menyukai sesuatu yang berbeda dari aku yang sebelumnya. Keras kepala, keras kemauan. Alasanku mulai suka lagu-lagu yang agak cepat adalah karena menurutku lagu-lagu melan menjeratku begitu kuat, sampai rasanya begitu sulit untuk bergerak dan bernapas. Semakin sedih semakin mendengar lagu pelan, semakin terperosok aku dalam kesedihan yang lebih dalam. Tetapi ketika aku sedih dan aku mendengarkan lagu cepat, setidaknya perasaan sedih yang ada jadi lebih longgar.
Aku tau pasti seberapa berat hidup tanpa lagu dalam hidupku. Ketika aku menjalankan athasila (8 sila dalam agama Buddha) yang salah satu silanya adalah menghindari hiburan. Awalnya aku kira yang paling berat adalah menghindari memakai bedak dan aksesoris, ternyata aku salah, hidup tanpa musik lah yang mematikan untukku. Dan aku rasa mungkin itu akan jadi kali terakhir aku mengambil sila. Aku tak bisa hidup tanpa musik. Hidupku benar-benar mati karena perasaanku terus tumbuh dengan musik.
Anehnya, begitu sukanya aku pada musik hanya sebatas itu saja. Nyatanya aku pernah ikut les biola dan piano, tapi semuanya berhenti ditengah dan hanya sia" belaka. Aku hanya tau teknik bermainnya, tapi tak memiliki kemampuan untuk memainkannya dengan baik. Tak ada ketertarikan untuk memainkannya, tapi ku benar-benar mencintai mendengarkan musik. Dari dulu aku selalu ingin melihat konser musik, tapi bukan konser musik rock atau pop. Aku ingin benar-bear konser musik, seperti musik ciptaan Mozart, Bethoveen, dan lainnya. Aku juga suka menonton opera, pertunjukan seperti itu benar-benar sesuatu yang luar biasa. Aku yakin perasaanku pasti melunjak dan penuh dengan bunga jika aku benar-benar bisa menonton konser seperti itu.
Wondering
Harusnya ini post kemarin, tapi inetku mati sebelum save =="
Satu hal yang menyakitkan adalah mengetahui bahwa orang yang paling dekat denganmu tak mengerti siapa kamu, dan tak pernah yakin tentang siapa kamu. Aku pernah mengalaminya sekali sebelum ini, dan kali ini, perasaan yang sama kembali terulang, dan jauh lebi menyakitkan.
Mungkin memang aku yang bodoh, karena begitu percaya, aku akan mencari tau sifat, kebiasaan, kesukaan dan apa yang mereka benci, sampai pada akhirnya aku bisa memprediksi segala sesuatu tentang mereka, dan pasti benar, ketika berhubungan dengan orang lain. Tetapi aku tak pernah mempelajari apa yang terjadi bila berhubungan dengan diriku. Dekat dengan orang, menceritakan banyak hal dengannya, mulai cari cara berpikir, perasaan dan sebagainya, tetapi mereka bahkan seperti orang yang baru saja mengenalmu. Terlalu menyakitkan.
Dulu aku orang yang memikirkan apa yang orang lain pikiran tentang diriku. Seiring waktu, aku mulai mengurangi hal itu. Tapi pemikiran orang terdekatku benar-benar bisa membuatku begitu sedih, seperti ditusuk ratusan pisau tepat di jantungku.
Sekali lagi aku bertanya-tanya dan merenung, apa yang membuat mereka, orang-orang yang aku pilih untuk membagi perasaan dan segalanya tentangku, justru adalah orang-orang yang tak pernah percaya dan mengenal aku. Mungkin ketika seseorang datang pada mereka dan mengatakan bahwa aku ini orang yang jelek, kemudian bertanya kepada mereka, bagaimana menurutmu? Jawaban mereka mungkin seperti ini, "Aku nda tau ya, aku deket dia tapi aku nda tau dee sebenere ya apa" =(
Apa orang-orang terdekatku seperti itu semua? Lebih baik aku berteman biasa dengan seseorang yang percaya benar-benar karena mereka mencari tau balik siapa aku, daripada punya orang dekat, menceritakan dan berbagi segala sesuatu, tapi tak pernah yakin siapa aku =(
Sunday, August 21, 2011
Memory
Pikiran memang selalu bergerak secara liar. Agak susah untuk mengendalikannya agar berpikir lebih terarah. Akhirnya aku bermelan-melan lagi hari ini. Bukan aku menginginkannya, tapi tiba-tiba aku memikirkan beberapa kejadian yang terjadi beberapa waktu lalu, terlalu membahagiakan tetapi sangat singkat. Hampir seperti sebuah mimpi, hanya saja saat itu benar-benar terjadi dalam kenyataan. Saat itu pernah datang dan hilang dalam sekejap di hidupku.
Membuat perubahan adalah satu hal yang baru berani aku lakukan akhir-akhir ini. Aku tak pernah berani berubah sebelumnya karena aku ingin orang melihatku sama seperti sebelumnya, ya, dan itu adalah satu kesalahan fatal yang ada dalam hidupku, menghambat perubahan karena ingin menjadi diri sendiri. Kebodohanku adalah tak pernah mengerti bahwa perubahan bukan berarti tidak menjadi diri sendiri. Perubahan adalah menjadi lebih baik dari sebelumnya tanpa merubah siapa dirimu yang sebenarnya.
Aku selalu bisa mengkondisikan sekelilingku dengan sangat baik. Menyesuaikan perasaan yang sedang aku rasakan. Seperti saat ini, panas terik matahari tak mencerahkan kabut yang menutupi hatiku, hembusan angin yang lembut justru menebalkan lapisan kabut itu.
Selalu ada perbedaan mencolok dalam caraku menulis di blog ini, ketika aku sedang melan dan membaca tulisanku saat sedang bahagia, aku seperti tak mengenal diriku yang sedang bahagia itu. Ketika bahagia, bahasaku berubah begitu bersemangatnya, membacanya aku bisa merasakan kembali perasaan ketika aku menulisnya, tapi tidak bisa merubah perasaan yang sedang aku rasakan. Ketika sedang sedih, yah, aku benci cara bicaraku waktu sedang menjadi melankolis sejati, bahasanya terlalu dalam dan menyedihkan.
Ada satu hal yang aku pelajari dalam hidupku dan selalu aku katakan pada diriku sendiri, "Kamu tak akan pernah bisa benar-benar berbahagia, jika kamu selalu memikirkan bahwa ada orang yang bersedih saat kamu berbahagia. Kamu berhak berbahagia tanpa harus membuat semua orang disekelilingmu berbahagia. Jika kamu ingin berbahagia dan membahagiakan semua orang disekelilingmu, itu adalah satu hal yang mustahil dan kamu tak akan pernah bisa bahagia karenanya."
Subscribe to:
Posts (Atom)

