Showing posts with label Best Friend. Show all posts
Showing posts with label Best Friend. Show all posts

Tuesday, July 20, 2010

For One of My Best Friends

Aku tak ingat kapan terakhir kali kamu meneleponku. Yang jelas itu sudah sangat lama sekali. Menerima teleponmu karena hal-hal yang menurutmu tak penting. Tapi aku suka sekali saat-saat kamu menceritakan hal itu =)

Dan hari ini, yah, aku sungguh bahagia, mendapatimu meneleponku hanya untuk menceritakan satu hal yang menurutmu tak bermutu itu. Aku tak tahu harus bicara apa, aku benar-benar tak bisa mencari kata-kata yang tepat untuk menanggapi celotehanmu, terlalu kaget ketika mengangkat telepon dan mendapati itu suaramu.

Aku tahu ini bukanlah satu hal yang luar biasa, bahkan bagimu mungkin ini satu hal yang sangat aneh untuk mendapat perhitungan, but i did. It had a deep meaning for me. Cukup untuk membuatku melambung tinggi hanya dengan mendengar suaramu, mendapati bahwa kamu memilih memencet nomerku untuk menjadi orang yang mendengarkan celotehanmu, ini satu hal yang luar biasa. Satu hal yang cukup membuatku kaget dan bahagia.

What a Wonderful day =)

Yah, aku sudah lama sekali menantikan hari ini. Pergi bersama teman-temanku untuk nonton. Dan hari ini aku akhirnya mendapatkan apa yang aku inginkan =)

It's not without difficult to have a walk with them. Mamaku hampir tak memberikan ijin untuk pergi like usual. Dan entahlah, penuh dengan debaran jantung yang menggebu-gebu, antara pengharapan, ketakutan, kecemasan, dan keinginan yang sangat besar.

Dan, satu hal yang luar biasa aku akhirnya bisa pergi jalan-jalan bersama mereka. Membuatku begitu bahagia hingga susah tidur dan cepat sekali bangun =)

Ya, kami menghabiskan waktu singkat tapi sangat berharga bagiku. Pergi bersama, dan dengan tambahan sedikit bumbu komunikasi membuat segalanya luar biasa.

Walaupun salah seorang temanku kurang enak badan dan membuatnya sedikit urung di tengah acara, yah, perjuangan yang sangat besar untuk tetap tegar tanpa air mata dengan mata panas dan badan yang agak demam. Mungkin jika itu aku, aku akan menangis, setidaknya setelah itu aku jadi lebih leluasa menghadapi semuanya, seperti membuang sedikit efek sakit itu dari diriku. Aku salut padanya, karena walaupun berair, air mata itu XD

Sunday, July 18, 2010

Realized

Aku mulai sadar tentang satu hal dalam diriku. Thanks buat somenone yang buat aku menyadari satu hal ini. Begitu membaca kata-katamu, aku seperti disadarkan bahwa aku salah.

Aku jadi tau, aku tak bisa selalu menganggap diriku sebagai orang lain dengan sifat asliku, yang sensitif dan berlebihan. Karena aku tau, tak semua orang sepertiku. Tak semua orang punya cara pikir dan cara merasakan sesuatu sepertiku.

Satu hal lagi yang akan menuntunku menjadi lebih baik dari sebelumnya, dan sepertinya aku membutuhkanmu untuk menyadari banyak hal =)
Tolong bantuannya yah XD

Wednesday, July 14, 2010

Friends

I always have good friends.

Apapun yang akhirnya terjadi pada kami, tetap bersama ataupun berpisah, bagiku mereka adalah teman yang sangat luar biasa.

They still be my good friends, even though they know my nature, how my mood changed erratycally. I always remember everytime that we spend together in happiness.

Yah, mungkin untuk beberapa saat ini aku akan menuliskan hal yang sama pada blogku, 'bout my family, my close friends. Inilah aku, selalu membicarakan hal yang hampir sama untuk beberapa waktu, kemudian baru berubah.

Aku baru membaca kembali sebuah buku, kado dari salah satu teman dekatku. Sebuah buku yang memberi banyak perubahan dalam diriku. Dari seorang Desy yang melankolis dan terpuruk, menjadi seorang Desy yang ceria dan mulai bangkit sedikit demi sedikit. Dan buku ini, sekali lagi membantuku untuk bangkit lagi, melihat betapa semua yang aku lalui adalah satu hal yang sangat luar biasa, termasuk orang-orang yang ada di dalamnya.

Thank you, my close friends ...
Aku seneng isa ketemu dan dekat dengan kalian =)

Tuesday, July 06, 2010

Best Friend

Aku tak pernah percaya kehadiran seorang sahabat. Bagiku, selalu ada alasan dibalik pertemanan. Entah karena kekayaan, kepopuleran, kepandaian, dan lainnya. Semua itu ada di pikiranku sejak masuk SMA. Setelah dipikir ulang, tak ada yang benar-benar peduli padaku setelah berpisah. Just say good bye and everything is end.

Tapi semua itu berubah juga di SMA, ketika aku menemukan seorang yang bahkan tak pernah kuajak bicara sebelumnya selain bertanya nama. Seseorang yang bahkan tak pernah sekalipun berjalan disampingku sebelumnya, seseorang yang melakukan suatu hal yang biasa, tapi luar biasa buatku. Hanya karena sepatu olah raga. Yang dengan bodohnya kutinggalkan diruang kelas dan baru kusadari bahwa aku meninggalkannya ketika ada di rumah. Aku menelepon teman-temanku yang kos disana, tapi tak ada yang mau membantuku. Aku tak tahu apakah ini yang dinamakan takdir, yang aku tau, waktu itu dia memberikan suatu hal yang luar biasa, yang membuatku ingin bersama dengannya, membuatku ingin menjadi seseorang yang ada untuknya.

Sejak saat itu, aku ingin mendekatinya. Tapi aku tak tahu bagaimana caranya. Yang kulakukan hanya menggodanya karena logatnya yang sangat kental. Yang aku tau dan ingat, hanya itu yang aku lakukan sampai pada akhirnya kami menjadi dekat, aku tak yakin pasti seperti apa awalnya, yang aku ingat, dia sedang berdiskusi dengan seorang teman sampai akhirnya aku menanggapi percakapannya itu. Sungguh diluar dugaan dia menyambut tanggapanku dengan baik dan dari sana kami mulai bersama.

Aku tak percaya sahabat, dan mulai mencoba untuk kembali percaya. Sampai akhirnya terjadi kesalahpahaman, hatiku mulai kembali menggelap setelah memerah kembali sejak kehadiran seorang sahabat dalam hidupku, komunikasi selalu, perhatian membuatku percaya bahwa ada sahabat. Kesalahpahaman kecil yang berdampak besar dalam perubahan di diriku. Tapi itu tak membuatnya bergeming dan pergi, dia justru bertahan menghadapi ku dengan hati yang sedang hampa. Dan itu membuatku sadar bahwa dia benar-benar ingin bersamaku, ketegasannya dalam mengambil keputusan dan tetap bertahan meruntuhkan pertahanan hatiku yang gelap, memasukkan secercah cahaya yang akhirnya menerangi seluruh hatiku.

Aku tak berharap ada perpisahan, tapi masuk kuliah menjadi salah satu yang membuat komunikasi kami berkurang. Kata-katanya, bahwa ia akan menemukan kembali seorang sahabat membuatku sadar, bukan hanya aku yang akan ada, tapi akan ada yang lain. Tetapi akulah yang menemukan teman-teman baruku terlebih dulu. Aku memilih teman baruku dan meninggalkannya di bazar sekolah. Aku tau itu salah dan aku benar-benar tak tau pasti apa yang membuatku melakukan itu. Aku hanya berpikir bahwa teman baruku belum tau tempat-tempat disana, dan teman-teman lamaku sedang ngobrol dengan teman-teman lama mereka. Aku tau aku tak punya teman lama yang akan ngobrol denganku lama-lama selain menyapa dan aku bisa memastikan hal itu. Tapi pemikiran itu keliru. Sekali lagi ada kemarahan dan kekecewaan untuknya. Tapi kami kembali sepert biasa.

Ketika aku ada masalah, dan tak tahu harus bagaimana, entah karena takdir, aku menemukannya ketika keluar dari toilet, sungguh satu hal yang luar biasa, karena aku tak pernah bertemu dengannya di kampus kecuali malam hari ketika menunggu jam macet. Aku keluar dari toilet, menemukannya berjalan menuju toilet, menyapaku, dan yang aku lakukan adalah menangis dipundaknya, tanpa satu kata yang menjelaskan semuanya. Aku tak sanggup lagi menahan air mataku dan dipundaknyalah aku menangis. Dia menemaniku beberapa saat hingga tangisku mereda, kemudian kembali untuk mengikuti kelasnya.

Dan sekarang, sekali lagi aku membuat suatu keonaran, dia menemaniku hingga titik puncak keonaranku. Begitu lelahnya, karena menjadi diriku aku sudah merasa sangat lelah, aku yakin orang disekitarku akan jauh lebih lelah. Melihat kemelananku yang keterlaluan, dimana aku akan jauh lebih senang sendirian, menghabiskan waktuku untuk mendengarkan alunan lagu sendu atau menulis perasaanku, tanpa menghiraukan ada orang disampingku. Itu karena aku tak ingin membuat orang lain repot karenaku, mendengarkan kemelananku yang aku sendiri tak pernah tau kapan akan berakhir. Aku selalu memilih untuk sendiri beberapa waktu. Dan sepertinya terlalu melelahkan, dan dia meninggalkanku, tetapi hanya sejenak dan ia kembali. Sekali lagi ia membuktikan bahwa aku benar-benar ada dipikirannya. Membuktikan bahwa ada orang yang tetap ada seberapa melelahkannya bersamaku.

Terlalu banyak bukti yang dapat membuatku menyangkal semua keraguan hatiku tentangnya. Terlalu sering dia ada di saat-saat terparahku. Terlalu berharga sampai aku tak tahu bagaimana mengungkapkannya.

Aku bahagia bisa berjumpa denganmu, menjadi orang yang mendapat tempat di hati dan pikiranmu.


A best Friend is like a four leaf clover, hard to find and lucky to have ...
When it hurts to look back, and you're scared to look ahead, you can look beside you and your best friend will be there ...

Monday, February 08, 2010

Best friend

Adakah orang yang bisa menerimamu apa adanya?
Semua kelebihan dan kekuranganmu?

Aku tak tahu apakah aku punya orang yang bisa menerima semua yang ada di dalam diriku. Yang aku tahu, aku punya orang yang ada waktu aku butuh seseorang untuk bicara. Sahabat bukanlah orang yang harus ada 24 jam, tahu apapun yang kamu lakukan selama 24 jam penuh.

Aku tak akan bisa menjadi seorang sahabat, jika yang aku lakukan hanyalah mengetahui apa yang kamu rasakan dan apa yang kamu lakukan selama 24 jam. Mungkin terlihat lebih perhatian, karena aku punya banyak waktu untukmu.

Sahabat tak harus ada setiap waktu. Sahabat adalah seseorang yang akan kamu ingat pertama kali ketika kamu punya masalah, seseorang yang akan kamu rindukan ketika kamu merasa sendirian, tempat dimana kamu bisa berbagi cerita, suka dukamu.