Showing posts with label Family. Show all posts
Showing posts with label Family. Show all posts

Wednesday, August 10, 2011

Life

Inilah hidupku, dengan setiap masalah yang ada di dalamnya. Mengeluh tak akan ada gunanya, hanya akan menghabiskan tenaga dan semakin membuatku menjadi lebih lelah. Aku hanya melangkah dan mengerjakan setiap hal yang ada.

2,5 tahun sudah, papaku menderita sakit. Agak aneh, cegukan yang tak bisa berhenti. Beberapa waktu yang lalu aku kira beliau sudah sembuh dan aku mulai bisa menjalani hidupku dengan normal, ternyata aku salah. Mungkin semua jauh lebih baik jika beliau segera sembuh. Aku bisa fokus pada kuliah dan bisa menjadi seorang remaja dewasa seperti layaknya yang lain. Tetapi sepertinya itu juga akan sedikit berbeda. Bagaimanapun, menjadi dewasa dengan didikan dikeluargaku, tak mengenal yang namanya sahabat. Tapi inilah aku, melenceng dari lingkungan yang ada, mencari tau kebenaran dan membuktikan bahwa perasaanku benar. Walaupun sering kali aku kecewa, dan berpikir bahwa sahabat memang tak ada, pada akhirnya aku akan tetap menuruti perasaan bahwa sahabat itu ada, dengan cara yang selalu berubah karena pengalaman-pengalaman yang ada.

Kuliah, selama ini aku mengira bahwa IQ-ku mungkin menurun, karena nilaiku semakin lama menurun dan mengagetkanku dengan kemerosotan yang cukup banyak. Ada kalanya aku berpikir, mungkin jika aku berada dikondisi seperti mahasiswa lainnya, yang hanya fokus pada kuliah tanpa ikut memikirkan hal yang lain aku bisa menyelesaikan kuliah ini dengan baik. Tetapi, sekali lagi aku nda menjalani kehidupan kuliah layaknya mereka. Membantu pekerjaan orang tua di tambah kuliah beserta tugas-tugasnya sering kali membuatku jenuh. Ditambah kenyataan bahwa papaku masih sakit dan kemungkinan bahwa mamaku punya gejala stroke semakin memenuhi pikiranku, berpikir apa yang seharusnya aku lakukan, bagaimana bekerja dan mendapatkan uang, disamping pemikiran bahwa aku butuh teman, dan lainnya.

Inilah kehidupan, dengan segala sesuatu yang ada di dalamnya, waktu, kesempatan, perasaan, penderitaan, kebahagiaan, masalah dan solusinya, cara kita memandang dan menghadapi sesuatu. Kedewasaan, dan pilihan yang diambil, semua memiliki resikonya dan yang bisa kita lakukan adalah menganalisa resiko yang ada, dan memilih yang paling baik dan benar untuk diri kita dan orang lain.

Banyak masalah dalam hidupku, tapi masalah itu menambah pengalamanku dan mendewasakan aku. Tapi aku masih punya lebih banyak hal untuk disyukuri setiap harinya. Kenyataan bahwa aku menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, kenyataan bahwa aku memiliki teman-teman yang jauh lebih banyak dari sebelumnya, dan yang terpenting adalah kenyataan, bahwa aku berani mengubah diriku menjadi lebih baik dari sebelumnya, keluar dari zona nyaman dan aman yang selama ini ditanamkan dalam diriku yang akhirnya melekat begitu kuat dalam diriku. Dan aku berhasil keluar dari sana, perlahan-lahan, tapi aku tau pasti bahwa setiap langkah aku keluar dari sana, aku menghadapi satu ketakutan yang ada dalam diriku. Satu hari tak cukup untuk mensyukuri semua itu. Seumur hidup mungkin masih belum cukup untuk mensyukurinya.

Monday, December 06, 2010

Tak Berdaya

Ketidakberdayaan terbesar, yang aku rasakan seumur hidupku, adalah ketika melihat papaku terbaring, dengan sakit yang dirasakannya sendirian, tanpa bisa melakukan apa". Andai, sakit itu bisa dibagi, aku mau menerimanya, karena bagiku, itu jauh lebih membahagiakan, daripada melihat papaku berusaha sekuat tenaga merasakan semua sendirian. Sering aku berpikir, apakah ada cara yang bisa aku tempuh untuk mengurangi rasa sakitnya. Berusaha dengan beberapa hal, dan aku harap akan menghasilkan keajaiban suatu saat nanti. Aku sering membayangkan betapa sakit sekali perut beliau, karena cegukan yang cukup, bahkan sangat lama. Karena, aku tau, cegukan 15 menit cukup membuat otot perutku kram dan benar" tak bisa merasakan apa".

Tuesday, November 09, 2010

Hidup baru, kebahagiaan baru

Aku tiba di bandara jam 3, yah memang sesuai rencana awalku. Tapi ternyata kedua orang tuaku sudah tiba dan menunggu disana. Mamaku lupa bilang kalau berangkatnya jam 1 Singapura, bukan jam 1 Indonesia. Untung mereka tidak menunggu terlalu lama.

Aku membunyikan klakson ketika melihat pamanku. Mama dan papaku sedang duduk di kursi di samping tempat pamanku berdiri. Mamaku melambaikan tangan dan papaku segera bangkit dari duduknya dan mendorong kereta yang berisi koper dan barang-barang bawaannya. Aku turun dari mobil, mamaku memegang satu tas yang cukup berat, aku segera mengambil tas itu dari tangan beliau. Mamaku memeluk dan mencium pipiku. Tapi aku benar-benar sedang panik karena aku kira mereka sudah menunggu sangat lama, sehingga tak membalas memeluk beliau.

Setelah memasukkan semua barang bawaan ke bagasi mobil, kami segera naik dan meluncur ke sebuah restoran untuk makan. Mereka belum makan dari pagi, hanya mengganjal perut dengan roti dan susu. Aku tak berani memacu kecepatan tinggi, karena aku pikir papaku kakinya masih sakit setelah operasi, jadi aku memacu mobil dengan kecepatan sedang.

Aku bicara sangat banyak hari ini, bertanya banyak hal kepada papaku, bagaimana keadaannya, apa yang papa rasakan. Aku bilang, betapa takutnya aku ketika mendengar kabar papa akan operasi jantung, ketika aku mendengar bahwa itu operasi besar, ketika papa berkata padaku di telepon bahwa beliau akan operasi besar dan memintaku untuk berdoa.

Aku banyak menangis beberapa minggu ini. Dan aku rasa, mamaku jauh lebih banyak menangis dibandingkan aku, karena begitu melihat dan memelukku dibandara, kulihat mukanya memerah dan ada air mata yang membasahi mata beliau.

Di restoran, setelah memilih menu makanan, mamaku berjalan ke tempat roti melihat dan memilih beberapa barang. Aku dan papaku tinggal dan menunggu di meja. Aku berkata kepada papaku, bahwa mama banyak menangis, bahwa ketika papa operasi, banyak air mata yang keluar dari mata beliau. Aku bertanya apakah mama menangis ketika melihat papa sadar, dan dugaanku benar, papaku mengangguk dan berkata ia.

Di perjalanan pulang, aku bertanya apakah papaku takut waktu akan menjalani operasi.by pass jantung ini. Mamaku bilang, ketika diberi kabar bahwa harus operasi daging yang ada di dekat paru-paru papa, darah tinggi papa langsung naik. Papaku berkata bahwa beliau berpikir ~Kalau aku nda operasi, aku mati. Kalau aku operasi, aku masih teka-teki~ Dari pemikiran itulah papaku akhirnya membulatkan tekad dan dengan berani dan mantap menjalani operasi.

Begitu banyak yang kami bicarakan, sepanjang perjalanan diisi dengan banyak obrolan yang tak pernah berhenti mengalir.

Hari ini, pertama kalinya aku melihat papaku tertawa lepas setelah sekian lama. Aku begitu bahagia karena bisa membuat dan melihatnya tertawa ketika aku memperlihatkan padanya baju yang baru aku beli.

Hidup akan terasa sangat indah ketika kita bisa menyadari betapa berharganya hidup ini, betapa berharganya orang-orang yang hadir dalam hidup ini~

Wednesday, November 03, 2010

3 November 2010

Aku, beberapa waktu ini benar-benar malas kuliah. Minggu lalu aku full nda ke kampus sama sekali, cuma ikut mata kuliah mekanika bahan senin pagi. Terlalu malas pergi ke kampus, terlalu banyak hal yang ku pikirkan dan membuatku semakin malas ke kampus dan betah sekali dirumah.

Papaku sudah lepas selang. Alangkah bahagianya mendengar kabar itu. Setidaknya papaku tak perlu menderita lebih lama dengan banyak selang di tubuhnya. Beberapa hari lagi baru boleh turun untuk jalan. Aku benar-benar tak tau, bagaimana dampaknya bila urat kaki dipotong, apakah akan ditarik untuk menjadi lebih panjang? Atau sudah dihilangkan satu cabangnya. Aku tak bisa membayangkan berjalan tanpa satu urat kaki. Apakah masih mampu menopang berat badannya?

Apakah operasi by pass akan berpengaruh dengan cara beliau berjalan? Apakah itu akan memberi dampak pada seberapa lama dan seberapa jauh beliau bisa berjalan.

Aku tak tau, apakah pemikiran ini terlalu berlebihan, inilah yang aku pikirkan dan tak ada yang bisa membuatnya berubah. Kecuali bila seorang dokter menjelaskan padaku seperti apa dampak operasi itu, kecuali papaku berkata dengan jujur bahwa semua tetap baik-baik saja, bahkan menjadi lebih baik.

Mamaku, beliau sering sakit kepala, entah karena migran atau karena hal lain. Aku memintanya untuk periksa sekalian, tapi beliau menolak. Aku harap semua baik-baik saja. Sebenarnya, aku ingin pergi menyusul kesana, menemani mamaku tidur di ruang tunggu, memastikan setiap hari beliau makan dan tidur dengan cukup. Setidaknya aku jauh lebih tenang bila bisa melihat semua secara langsung.

Aku berencana memberikan kado ulang tahun untuk mamaku, aku pernah berencana melakukan hal yang sama sejak beberapa tahun yang lalu, tapi aku belum melakukannya. Semoga tahun ini aku bisa melakukan keinginanku memberikan kado ulang tahun untuk mamaku~

Monday, November 01, 2010

Operasi

Hari ini hari paling menegangkan buatku. Waktu berjalan sangat lama, membuatku berada dalam kegelisahan yang lebih dalam.

Papaku operasi jantung hari ini, penyumbatan. Terlalu parah sehingga harus di by pass. Aku tetp masuk kuliah hari ini, mamaku nda bolehi aku bolos kuliah terus-terusan. Tapi, aku benar-benar tak bisa menangkap apapun di kelas, aku berusaha mengerti apa yang dikatakan dosenku, tapi aku benar-benar tak menangkap apa-apa. Terlalu hampa dan kosong.

Aku menangis di perjalanan pulang, membayangkan saat itu papaku sedang di bedah, membayangkan, bagaimana cara dokter memotong pembuluh darah dari jantungnya dan menggantinya dengan urat dari kaki, bagaimana bisa papaku tetap bernapas, bila pembuluh darah dari jantungnya dipotong dan diganti dengan urat kaki. Aku sedih, jauh melebihi kesedihan selama ini.

Operasinya sukses, papaku tersadar sore hari tapi dokter tak memperkenankannya untuk berbicara. Aku baru menelepon mamaku, kata mama, papaku sedang di ICU, dengan banyak selang ditubuhnya. Beliau tak boleh bicara, makan maupun minum hingga 2 harian ke depan. Sepertinya cukup memprihatinkan, aku yakin mamaku menahan tangisnya ketika berbicara denganku, seperti yang juga kulakukan.

Mamaku orang yang kuat, aku tau itu, sebenarnya kami hampir sama dalam banyak hal dan aku bisa mengerti banyak hal tentang itu. Yang aku tau, mamaku jauh lebih kuat dariku. Tapi kami akan tetap saling menopang untuk bisa terus berdiri.

Aku, seharusnya ada disana, setidaknya mamaku tak akan sendirian disana, setidaknya ada aku yang bisa menemaninya, atau mungkin kokoku. Karena aku tau kokoku jauh lebih tegar dariku, aku pasti akan menangis melihat kondisi papaku, kokoku mungkin juga akan menangis, tapi aku pasti menangis lebih parah darinya puluhan kali lipat.

Aku kangen papaku, aku kangen mamaku, aku kangen melihat mereka setiap bangun tidur dan sebelum aku pergi untuk tidur. Aku rindu bertatap muka dengan mereka, aku rindu dimarahi papaku, aku rindu berkumpul bersama mereka~

Kenapa harus papaku? Aku mau nggantino papaku, jadi orang yang menunggu benar-benar sangat berat untukku~

Saturday, October 30, 2010

Bridge and Her Father

Papaku akan operasi hari senin nanti, hari ini, aku mulai gelisah dan ketakutan. Dulu emakku pernah berjanji, beliau akan melihatku tumbuh besar dan menikah, tapi beliau pergi waktu aku bahkan belum mengenal yang namanya cinta.

Aku, ingin papaku menggandeng dan menyerahkanku kepada laki-laki yang kucintai di pelaminan. Aku benar-benar ingin orang yang mengantarku adalah papaku. Operasi besar, penyumbatan jantung, cukup membuat otakku berpikir sangat menyedihkan.

Aku, hampir saja menangis, ketika berbicara di telepon dengan papaku, ketika beliau berkata, "Papa, senin operasi ...., berdoa ya?" Pertama kalinya, aku mendengar nada ketakutan dalam suaranya. Seumur hidup, ini pertama kalinya aku mendengarnya begitu rapuh. "Ia, papa jaga kesehatan, nanti aku berdoa." Suaraku bergetar ketika mengatakannya. Percakapan diantara kami begitu dingin, aku tak tau harus bicara apa. Awalnya, aku tak terlalu takut dengan operasi ini, karena aku tau, dokternya pasti berpengalaman, tapi semua berubah setelah mendengar suara papaku.

Aku takuuuttt, jauh melebihi apapun yang kutakuti selama ini.

Thursday, October 21, 2010

Emak

Melintasi jalan raya mengendarai sepeda motor. Tak ada yang aneh hari ini. Aku akan pergi ke rumah emakku, papaku sedang singgah di sana dan aku menyusulnya. Pandanganku tiba-tiba tertarik kesebuah tempat, di gang yang sama dengan rumah emakku. Ada yang aneh disitu. Sepertinya ada yang baru saja meninggal. Tembok bagian depannya dilepas. Hingga tampak ruangan yang lapang dengan sebuah dipan di samping agak ke dalam.

Itu sepertinya China totok. Aku tau itu karena waktu akongku meninggal dan disemayamkan di rumah, dinding bagian depan ruang tamu semua dibongkar karena terdiri dari pintu dan jendela kaca semua. Menurut kepercayaan kaca membuat orang yang sudah meninggal silau, jadi perlu di bongkar, sedangkan kaca di bagian dalam ditutup dengan koran.

Pemandangan yang familiar dengan suasana duka. Meja untuk persembahan makan, bau dupa yang di bakar, lilin putih yang menyala di sisi kanan dan kiri. Aku melihat seseorang berbaring di sana, di dipan kayu yang hanya dilapisi dengan selembar kain putih dibagian bawahnya. Wajahnya terlihat, sosok seorang laki-laki tua dengan rambut cepak yang telah memuti karena usia. Heh, tunggu dulu, itu seperti engkongku? Aku melambatkan lajuku dan terus melihat sosok yang sedang berbaring kaku di atas dipan itu. Ia, itu engkongku, batinku. Segera ku gas sepeda motorku dan berhenti di depan rumah emakku.

"Pa, engkong pa!", seruku pada papaku yang sedang duduk dikursi panjang depan rumah. Papaku bingung dan bertanya apa yang sedang ku bicarakan. "Ia pa, engkong, itu lo nde depan situ, ada rumah bukaan lebar." Papaku yang penasaran akhirnya memutuskan untuk pergi dan melihat apa yang kubicarakan. Berboncengan kami berdua pergi melihat rumah tadi.

Aku melangkah ke dalam ruangan, ada kursi putih berjejer di sebelah kiriku. Saat sedang berjalan, aku menoleh ke seorang wanita tua yang sedang duduk sendirian di salah satu kursi itu. "EMAK?!?!?" jeritku ketika melihat sosok wanita tua itu. Wanita itu melihatku dari kursinya, mencoba mengingat siapa aku. Aku tak kuasa menahan air mataku, aku menangis dan segera memeluknya. Ketika akan kupeluk, aku sadar, emakku sudah meninggal, apa aku tak akan bisa memeluknya? Ternyata bisa, beliau seperti manusia biasa, hanya sedikit lebih pucat dan tak punya rona kehidupan. Melihatnya seperti melihat poto berarna hitam putih.

Aku memeluknya, sangat erat, sangat lama. Aku sangat merindukannya. Cukup lama aku memeluknya. Aku menceritakan banyak hal kepadanya. Aku bertanya kenapa ia tak pernah hadir dalam mimpiku sekalipun selama ini, padahal aku benar-benar merindukannya. Beliau hanya diam dan menatap mataku, segala yang ingin dia katakan padaku dapat kubaca dari sinar matanya. Kemudian kami berjalan ke meja persembahan makanan, emakku mengambil beberapa makanan. Sepertinya sudah waktunya beliau untuk pergi kembali ke dunianya, aku mengantarnya ke depan rumah, dan beliau diliputi sinar matahari yang menyilaukan~





Aku terbangun dari tidurku, ya tuhan, aku baru saja bermimpi emakku, aku baru saja bertemu dengannya setelah sekian lama aku ditinggalkan dalam kesendirianku. Aku sangat bahagia, jauh melebihi apapun, bahkan aku ingin menangis karena terlalu bahagia.

Emakku adalah orang yang menduduki tempat tertinggi di hidupku. Orang yang sangat kucintai. Orang yang menjadi motivasiku menjadi anak yang rajin dan pandai. Mungkin itu juga alasannya, kenapa prestasi dan segala hal dalam diriku mulai berkurang sedikit-demi sedikit seiring perginya emakku ke suatu tempat yang tak akan pernah ku ketahui hingga aku berada dalam kondisi yang sama, kematian ...

Sunday, August 15, 2010

Mobil vs Motor

Aku bisa mengendarai keduanya, mobil dan motor. Bukan satu hal yang sulit bagiku, dan aku pernah mengalami kecelakaan dengan keduanya, pernah trauma, tapi aku sudah bisa menghilangkan trauma itu menjadi lebih baik sekarang.

Dan, sebenarnya aku ingin mengendarai sepeda motor ke kampus, ketika hari senin sore aku harus ke kampus untuk mengikuti kelas studio autocad. Dan, pengalaman pertama ku masuk studio itu dengan mengendarai mobil adalah bahwa aku terjebak di jalan hingga 1,5 jam, bukan waktu yang sedikit untuk dihabiskan sia" di dalam mobil yang menyala tapi diam di tempat.

Akhirnya hari jumat sore aku memutuskan ingin naik motor supaya tak lagi terjebak 1,5 jam sia" di jalan lagi, tapi mamaku tak menyetujuinya, dan aku, tak akan pernah pergi tanpa restu orang tua, akhirnya aku pergi dengan mobil. Cukup lancar tapi hari itu, karena mungkin awal-awal puasa.

Tetapi, sepertinya mamaku tak akan pernah mengijinkanku ke kampus dengan motor lagi, entahlah ada banyak hal dan banyak alasan.

Dulu aku pernah pergi bermotor ke tempat yang cukup jauh, sekitar 15 menit dari rumahku, dan bagian terjauh yang pernah ku tempuh dengan motor adalah kampusku, ketika mobilku masuk bengkel setelah tanpa sadar ku tabrakkan ke dinding parkiran kampusku hingga kaca belakangnya hilang tak berbekas. Dan itu berlangsung sekitar 2 hingga 3 hari. Aku mengendarai sepeda motor ke kampus.

Tetapi, setelah beberapa hari itu pula, mamaku di beri tahu oleh seorang saudara bahwa aku tak seharusnya bermotor ke kampus, apalagi aku cewe. Karena taruhannya adalah nyawa, selain itu, akhir-akhir waktu itu, banyak sekali disiarkan di radio bahwa banyak orang bermotor yang tewas terlindas truk besar. Ditambah lagi, jalan raya depan rumahku adalah jalan yang rawan sekali terjadi kecelakaan, hampir tiap tahun memakan banyak korban.

Aku tau ini pilihan terbaik yang bisa diberikan mamaku, melihat aku adalah satu-satunya anak perempuan yang orang tuaku punya, dan yang juga memiliki satu tanggung jawab tertentu untuk menyelesaikan banyak hal. Hhh, tapi aku harus siap untuk menghabiskan waktuku ketika macet tak bergerak lagi, mungkin aku akan menyiapkan bacaan di mobilku. Hehehe ...

Friday, July 30, 2010

My Father 2

Hari ini papaku di endoskopi, yah, melihat bagian tenggorokan, lambung dan usus dua belas jari. Dan hasilnya, ada jamur di lambungnya dan ada putih-putih di bagian lainnya. Untuk jamur, itu akan diselesaikan dengan obat jalan, dan untuk putih-putih, tadi di sedot menggunakan penghisap.

Yah, aku sangat lega melihat papaku sadar waktu ke rumah sakit tadi. Aku orang yang berlebihan dan selalu melihat hasil terburuk yang mungkin terjadi. Dengan demikian, aku bnr" brusaha siap dengan lemungkinan terburuk, dan ketika semuanya baik, aku benar-benar dapat mensyukuri segalanya =)

Wednesday, July 28, 2010

My Father

Mama dan papaku telah berada di dalam mobil, aku dan kokoku mengantar mereka di teras rumah. Ketika kudengar keponakanku menangis, aku berlari kedalam, dan kokoku mengikutiku. Setelah melihat kakak iparku sudah di kamar, aku kembli keluar, dan kulihat papaku memanggil adiknya unuk datang dan mamaku yang berteriak sambil memukul punggung papaku. Aku bingung. Mencoba mencerna semua yang ada di depanku. Kemudian aku berlari ke mobil, membuka pintu dan membantu mamaku untuk memukuli punggung papaku.

Yah, sekali lagi papaku tak bisa bernapas. Tersumbat dan sesak. Sekali lagi mama, koko, aku, kami menangis karena ketakutan, ketakutan yang sangat besar, ketakutan akan kehilangan papaku. Dan aku bersyukur karena sekali lagi papaku masih tetap bisa menghirup udara, mendengar suara dan melihat kami.

Friday, July 23, 2010

My Father

Orang yang aku sayangi, setelah nenekku adalah papa. Beliau selalu menjadi sandaranku ketika aku butuh seseorang. Tetapi itu tak lama, ketika aku beranjak dewasa, papaku sudah tak terlalu suka menghadapiku. Mungkin aku terlalu melankolis dan itu sedikit mengesalkan?

Dan aku rasa, sejak itulah aku mulai menjadikan teman sebagai sandaranku. Karena, dengan mamaku, entah kenapa kami selalu berbeda pendapat, dan akhirnya selalu marahan. Dengan kokoku, dia jarang sekali ada di rumah, kadang pergi basket, futsal dsb. Apalagi sejak kokoku punya pacar, satu kata dalam sehari belum tentu ada di antara kami. Aku kadang sedikit iri pada keluarga yang masih ada komunikasi antar anggota keluarganya, walaupun tak antara semuanya, setidaknya dari situ, bisa menceritakan apapun yang dia rasakan. Aku selalu mendambakan satu keluarga yang penuh dengan komunikasi. Kadang aku bingung pada mamaku, ketika aku tak berbicara sama sekali, beliau akan bertanya mengapa aku tak pernah bercerita, ketika aku menceritakan sesuatu, beliau berkata tak ada waktu untuk mendengarkan ocehan yang tak berguna. That's wad i feel about, pengalamanku yng ingin aku ceritakan karena aku ingin membaginya, tapi di keluargaku itu satu hal yang tak perlu diceritakan.

Beberapa hari yang lalu, aku benar-benar hilang sandaran dan aku menangis di bahu papaku, papaku diam beberapa saat kemudian setelah itu beliau bertanya apa yang terjadi padaku, tetapi aku tak pernah mengatakannya. aku hanya butuh sandaran untuk beberapa saat dan itu lebih dari cukup. Dan aku tak tahu, penyakit apa yang sebenarnya ada dalam dirinya. Yang membuatnya tak berhenti cegukan setiap hari, bahkan sepanjang hari. Diabetes, maag akut, apapun itu, aku tak tahu kenapa belum ada dokter yang bisa mengetahui dengan pasti alasannya. Yang aku tahu, papaku bertambah kurus dari yang dulu, dan lebih lemah. Aku inginkan yang terbaik untuknya, tetapi aku seperti seorang anak durhaka yang tak melakukan apapun untuknya.

Thursday, July 15, 2010

My Best Mother ~❤~

She isn't perfect. Aku tau, ada banyak kekurangan dalam diri beliau. Tapi aku tau, ada jutaan kelebihan yang beliau miliki, dan jujur, aku terpesona pada banyak hal, walaupun aku jarang sekali mau mengakuinya (mengingat gengsiku yang sangat besar XD)

Mamaku, mungkin dulu, banyak waktu yang beliau buang sia-sia, dan kurang memperhatikan pertumbuhan buah hatinya. Mungkin yang beliau pikirkan adalah mencari banyak uang agar kebutuhan kami, buah hatinya, dapat terpenuhi dengan baik.

Aku masih ingat bagaimana mamaku membujukku dan kokoku untuk pulang setelah menginap lama di rumah nenekku. Dengan banyak sekali alat tulis, buku-buku baru, pensil, krayon, tepak pensil bagus. Semuanya baru dan benar-benar meyakinkan betapa mamaku ingin kami ikut pulang dengannya. Sekarang, yang aku pikirkan, bukanlah betapa menggiurkannya semua hadiah itu. Yang aku pikirkan adalah betapa besar perjuangannya.

Aku membayangkan, bagaimana mamaku, pergi sendiri ke Gramedia, memilih dua macam untuk setiap tipe alat tulis, untuk kokoku dan untukku. Bagaimana mamaku berusaha memberikan yang terbaik untukku, tak hanya saat itu, tapi sekarang, bahkan hingga nanti aku telah menjadi seorang wanita yang matang, mamaku, ia tetap menjadi orang yang terhebat dalam hidupku.

Aku masih ingat, sering sekali mamaku menemaniku, ketika aku terpuruk dan tak ada satu orang teman pun yang tinggal. Aku masih ingat bagaimana mamaku mencoba menghiburku dengan kikuk karena itu satu hal yang belum pernah beliau lakukan sebelumnya. She always tries to cheer me up, with every mistake I have done in my life. Aku tahu betapa capeknya menghadapi segala sesuatu dalam diriku, menghadapi sifatku yang keras kepala. Bagaimana aku sering sekali ngambek, karena cara bicara mamaku yang sangat keras, ditambah lagi suara beliau yang sangat keras juga, membuatku gampang sekali sensitif ketika berbicara dengannya, walaupun sebenarnya mamaku tak bermaksud seperti itu. Tempramen kami yang sama-sama keras kepala. Membuat itu jauh lebih susah, apalagi aku jauh lebih keras kepala dibandingkan beliau. Tapi mamaku, selalu memulai kembali relasi kami, mengajakku ngobrol, walaupun tau aku nda akan menggubris omongannya dengan sangat baik.

Beliau akan mengubahku menjadi seorang pribadi yang baru, mungkin cukup sulit bagi kami, dan bagiku untuk berubah, tapi aku juga akan berusaha, seperti bagaimana mamaku tetap berusaha walaupun tau betapa aku sudah sangat jauh terjerembab ke dalam.

Mungkin aku belum pernah memberikan apapun untuk mama, belum pernah benar-benar menghibur dan membuat mama bahagia, but I'll try to give my best. Aku harap bisa memberikan yang terbaik karena aku tau pasti, mamaku sayang aku. Dan satu hal yang jarang aku katakan, tapi aku merasakannya, I love you, mom ...

Sunday, March 07, 2010

Father


Waktu, berjalan tanpa henti ... Manusia hanya bisa mengikuti tanpa bisa menghentikannya ... Aku hari ini baru memperhatikan papaku ... Seorang pria yang sudah mulai kehilangan kegagahannya karena termakan usia ... Terbaring tidur dengan bantal yang menopang kepalanya setelah meminum obat penenang karena maagnya bermasalah ... Aku menyayanginya ... Aku tak tahu pasti seberapa besar rasa itu ... Menyadari hal itu sudah jauh daripada cukup. Aku menangis, melihatnya terlelap karena pengaruh obat. Bernapas di tengah-tengah cegukannya yang belum bisa dihentikan ... Sedih ... Aku pernah merasakan kesedihan juga sebelumnya, ketika papaku sesak napas. Aku menangis di depannya waktu itu. Tapi kali ini aku menahan tangisku sampai aku berada di kamarku. Sendirian, menangis dan bertanya, mengapa harus terjadi pada papaku. Akan lebih baik jika papaku tak lagi cegukan dalam tidurnya. Terlelap dengan napas yang bisa mulai di atur dan di kendalikan ... Aku tak suka bersedih sendirian. Aku ingin seseorang yang memahamiku. Ada bersamaku ketika aku benar-benar butuh seseorang di sampingku. Dan aku baru saja tahu siapa orang itu ...