Showing posts with label Fear. Show all posts
Showing posts with label Fear. Show all posts

Monday, November 01, 2010

Operasi

Hari ini hari paling menegangkan buatku. Waktu berjalan sangat lama, membuatku berada dalam kegelisahan yang lebih dalam.

Papaku operasi jantung hari ini, penyumbatan. Terlalu parah sehingga harus di by pass. Aku tetp masuk kuliah hari ini, mamaku nda bolehi aku bolos kuliah terus-terusan. Tapi, aku benar-benar tak bisa menangkap apapun di kelas, aku berusaha mengerti apa yang dikatakan dosenku, tapi aku benar-benar tak menangkap apa-apa. Terlalu hampa dan kosong.

Aku menangis di perjalanan pulang, membayangkan saat itu papaku sedang di bedah, membayangkan, bagaimana cara dokter memotong pembuluh darah dari jantungnya dan menggantinya dengan urat dari kaki, bagaimana bisa papaku tetap bernapas, bila pembuluh darah dari jantungnya dipotong dan diganti dengan urat kaki. Aku sedih, jauh melebihi kesedihan selama ini.

Operasinya sukses, papaku tersadar sore hari tapi dokter tak memperkenankannya untuk berbicara. Aku baru menelepon mamaku, kata mama, papaku sedang di ICU, dengan banyak selang ditubuhnya. Beliau tak boleh bicara, makan maupun minum hingga 2 harian ke depan. Sepertinya cukup memprihatinkan, aku yakin mamaku menahan tangisnya ketika berbicara denganku, seperti yang juga kulakukan.

Mamaku orang yang kuat, aku tau itu, sebenarnya kami hampir sama dalam banyak hal dan aku bisa mengerti banyak hal tentang itu. Yang aku tau, mamaku jauh lebih kuat dariku. Tapi kami akan tetap saling menopang untuk bisa terus berdiri.

Aku, seharusnya ada disana, setidaknya mamaku tak akan sendirian disana, setidaknya ada aku yang bisa menemaninya, atau mungkin kokoku. Karena aku tau kokoku jauh lebih tegar dariku, aku pasti akan menangis melihat kondisi papaku, kokoku mungkin juga akan menangis, tapi aku pasti menangis lebih parah darinya puluhan kali lipat.

Aku kangen papaku, aku kangen mamaku, aku kangen melihat mereka setiap bangun tidur dan sebelum aku pergi untuk tidur. Aku rindu bertatap muka dengan mereka, aku rindu dimarahi papaku, aku rindu berkumpul bersama mereka~

Kenapa harus papaku? Aku mau nggantino papaku, jadi orang yang menunggu benar-benar sangat berat untukku~

Saturday, October 30, 2010

Bridge and Her Father

Papaku akan operasi hari senin nanti, hari ini, aku mulai gelisah dan ketakutan. Dulu emakku pernah berjanji, beliau akan melihatku tumbuh besar dan menikah, tapi beliau pergi waktu aku bahkan belum mengenal yang namanya cinta.

Aku, ingin papaku menggandeng dan menyerahkanku kepada laki-laki yang kucintai di pelaminan. Aku benar-benar ingin orang yang mengantarku adalah papaku. Operasi besar, penyumbatan jantung, cukup membuat otakku berpikir sangat menyedihkan.

Aku, hampir saja menangis, ketika berbicara di telepon dengan papaku, ketika beliau berkata, "Papa, senin operasi ...., berdoa ya?" Pertama kalinya, aku mendengar nada ketakutan dalam suaranya. Seumur hidup, ini pertama kalinya aku mendengarnya begitu rapuh. "Ia, papa jaga kesehatan, nanti aku berdoa." Suaraku bergetar ketika mengatakannya. Percakapan diantara kami begitu dingin, aku tak tau harus bicara apa. Awalnya, aku tak terlalu takut dengan operasi ini, karena aku tau, dokternya pasti berpengalaman, tapi semua berubah setelah mendengar suara papaku.

Aku takuuuttt, jauh melebihi apapun yang kutakuti selama ini.

Wednesday, July 28, 2010

My Father

Mama dan papaku telah berada di dalam mobil, aku dan kokoku mengantar mereka di teras rumah. Ketika kudengar keponakanku menangis, aku berlari kedalam, dan kokoku mengikutiku. Setelah melihat kakak iparku sudah di kamar, aku kembli keluar, dan kulihat papaku memanggil adiknya unuk datang dan mamaku yang berteriak sambil memukul punggung papaku. Aku bingung. Mencoba mencerna semua yang ada di depanku. Kemudian aku berlari ke mobil, membuka pintu dan membantu mamaku untuk memukuli punggung papaku.

Yah, sekali lagi papaku tak bisa bernapas. Tersumbat dan sesak. Sekali lagi mama, koko, aku, kami menangis karena ketakutan, ketakutan yang sangat besar, ketakutan akan kehilangan papaku. Dan aku bersyukur karena sekali lagi papaku masih tetap bisa menghirup udara, mendengar suara dan melihat kami.

Friday, July 16, 2010

Like a Little Puppies

Aku tak seperti kebanyakan remaja putri, yang sering pergi bersama teman-temannya ke mall untuk jalan-jalan. Aku termasuk seorang anak rumahan. Mungkin itu juga yang menjadi salah satu faktor aku tak terlalu suka berhadapan dengan banyak orang.

Hari ini, aku pergi ke bank untuk menyetor giro. Yah, untuk pertama kalinya. Mamaku sudah menuliskan semuanya dan yang perlu aku lakukan adalah datang dan menyetorkannya. Ternyata ada yang belum ditulis, dan aku lupa bawa bulpoin. Di tempat setornya penuh dengan orang=orang yang sedang menuliskan slip setoran. Aku melihat seorang bapak yang membawa bulpoin di kantongnya. Setelah berpikir, dan memberanikan diri, aku mendatangi beliau dan berkata, "Pak, bisa pinjam bulpoinnya sebentar?" Dan untungnya dipinjami, setelah berpikir sekitar 2 detik. Satu masalah selesai, tapi ada satu masalah baru yang harus kuhadapi, kenapa tutupnya nda bisa di buka yah =___="

Aku, sudah biasa memakai bulpoin biasa, seperti standart, pilot, faster dan sebagainya, but not a parker ... Aiyo, aku coba tarik tutupnya seperti bulpoin biasa, nda bisa, aku putar, koq nda bisa juga yah?, akhirnya aku bertanya ke orangnya, "Bukanya gimana ya pak?" *blushing* aih, malu pol >__<

Bapaknya bilang, "Ditiup" (hah? ditiup?), kemudian seperti yang telah kulakukan, hanya ditarik biasa (duh tadi koq nda bisa yah?)

Duh, malu-malu, aku ambil lagi bulpoinnya, lalu aku kembali menulis yang kurang, setelah selesai, aku kembalikan ke orang itu. Dan berkata terima kasih.

I just like a little puppy, ketakutan, kebingungan. Badanku seolah beku, dingin seperti es ketika berada dengan banyak orang disekitarku. Aku tak tau alasannya, yang aku tau, aku benar-benar takut pada manusia, dengan segala hal yang bisa manusia rasakan. Just like a poison for me, when I know that somebody feel something to me. Even if they won't hurt me with anything.